Please, Translate in Your Language..

Kamis, 19 Juli 2012

Penjelasan Tentang Dhomir (Kata Ganti)

 Dhomir (Kata ganti)

Definisi Dhomir adalah tiap Isim yang dibuat untuk mewakili Mutakallim (si pembicara/orang pertama), Mukhotob (yang diajak berbicara/orang kedua), Ghaib (yang tidak ada di tempat/orang ketiga).

Contoh: 
  • Mutakallim : أَنَا (Saya) dan نَحْنُ (Kami).
  •  Mukhotob : أَنْتَ (Kamu) dan أَنْتُمْ (Kalian).
  • Ghaib : هُوَ (Dia) dan هُمْ (Mereka).
Pembagian Dhomir
 
Dhomir secara sederhana terbagi menjadi dua, yaitu:
  1. Al-Bariz, yaitu Dhomir yang mempunyai bentuk dan tampak dalam lafazh. Seperti huruf Taa’ pada kata kerja قُمْتُ (Aku telah berdiri).
  2. Al-Mustatir, yaitu Dhomir yang tidak mungkin tampak dalam lafazh akan tetapi bisa diperkirakan apa yang dimaksud. Seperti Dhomir أَنْتَ (Kamu) dalam kata قُمْ (Berdirilah!) yang meskipun tidak nampak dalam lafazh namun kita bisa perkirakan bahwa Dhomir yang dimaksud adalah أَنْتَ karena kata perintah pasti ditujukan untuk orang kedua.


Pembagian Dhomir Bariz
 
Al-Bariz dari segi bersambung dan tidaknya terbagi menjadi dua:

1. Al-Muttashil, yaitu Dhomir yang bersambung dengan lafazh sebelumnya. Lebih jelas kita katakan bahwa Dhomir jenis ini tidak mungkin digunakan untuk mengawali ucapan dan juga tidak mungkin terletak setelah harf إِلاَّ (Kecuali).

Seperti: huruf Yaa’ pada kata اِبْنِيْ (Anakku) dan huruf Kaaf pada kata أَكرَمَكَ (Ia memulyakanmu).
Dhomir-dhomir seperti ini tidak mungkin ada di awal kalimat seperti kalau kita paksa mengatakan كَ ضَرَبْتُ dengan maksud “Engkaulah yang aku pukul,” maka ini adalah kalimat yang salah dalam bahasa Arab.

Begitupula tidak mungkin Dhomir-dhomir seperti ini berada setelah harf إِلاَّ (Kecuali) seperti kalau kita paksa mengatakan إِلاَّكَ dengan maksud “Kecuali kamu,” maka susunan inipun merupakan susunan yang salah dalam bahasa Arab.

2. Al-Munfashil, yaitu Dhomir yang tidak bersambung dengan lafazh apapun sehingga bisa digunakan untuk mengawali ucapan dan bisa diletakkan setelah harf إِلاَّ (Kecuali).
Contoh: أَناَ (Saya) yang bisa digunakan untuk mengawali ucapan seperti: أَنَا مُؤْمِنٌ (Saya seorang mu’min) atau bisa juga diletakkan setelah harf إِلاَّ (Kecuali) seperti: مَا قَامَ إِلاَّ أَنَا (Tidak berdiri kecuali saya).

Pembagian jenis-jenis Al-Mustatir
 
Al-Mustatir terbagi menjadi dua:

  1. Al-Mustatir yang wajib, yaitu yang tidak mungkin digantikan oleh Isim Zhahir (Isim biasa yang bukan Dhomir) ataupun Dhomir Munfashil.
  2. Al-Mustatir yang boleh, yaitu yang bisa digantikan oleh Isim Zhahir (Isim biasa yang bukan Dhomir) ataupun Dhomir Munfashil.

Yang termasuk dalam jenis Mustatir yg wajib adalah:
  1. Dhomir yang terletak dalam fi’il amr untuk orang kedua tunggal seperti kata قُمْ (Berdirilah!), maka Dhomir أَنْتَ (Engkau) yang ada dalam fi’il ini tidak boleh ditampakkan sama sekali. Kalaupun ditampakkan, maka Dhomir tersebut hanya boleh dianggap sebagai Taukid Lafzhi (Penguat Dhomir dengan kata yang sama) dan tidak boleh dianggap sebagai Fa’il (Pelaku atau subjek) dari fi’il tersebut.
  2. Dhomir yang terletak dalam fi’il mudhori’ yang diawali oleh huruf Taa’ untuk orang kedua tunggal seperti kata تَقُوْمُ (Engkau berdiri), maka Dhomir أَنْتَ (Engkau) yang ada dalam fi’il ini tidak boleh ditampakkan sama sekali. Kalaupun ditampakkan, maka Dhomir tersebut hanya boleh dianggap sebagai Taukid Lafzhi (Penguat Dhomir dengan kata yang sama) dan tidak boleh dianggap sebagai Fa’il (Pelaku atau subjek) dari fi’il tersebut.
  3. Dhomir yang terletak dalam fi’il mudhori’ yang diawali oleh huruf Alif atau Nun seperti kata أَقُوْمُ (Saya berdiri) dan نَقُوْمُ (Kami berdiri), maka Dhomir أَناَ (Saya) dan نَحْنُ (Kami) yang ada dalam kedua fi’il ini tidak boleh ditampakkan sama sekali. Kalaupun ditampakkan, maka kedua Dhomir tersebut hanya boleh dianggap sebagai Taukid Lafzhi (Penguat Dhomir dengan kata yang sama) dan tidak boleh dianggap sebagai Fa’il (Pelaku atau subjek) dari fi’il-fi’il tersebut.
  4. Dhomir yang terletak dalam fi’il istitsna’ (kata kerja yang berfungsi sebagai pengecuali) seperti kata خَلاَ, عَدَا dan لاَ يَكُوْنُ yang semuanya berarti “Kecuali,” maka Dhomir هُوَ (Dia) yang ada dalam fi’il-fi’il tersebut tidak boleh ditampakkan sama sekali dan tidak bisa diberi taukid lafzhi.
  5. Dhomir yang terletak dalam fi’il dengan wazan أَفْعَلَ yang digunakan dalam Ta’ajjub atau susunan untuk mengungkapkan ketakjuban pada sesuatu. Contoh: ماَ أَحْسَنَ الزَّيْدَيْنِ (Betapa baiknya dua Zaid). Maka Dhomir هُوَ (Dia) yang ada dalam fi’il أَحْسَنَ tersebut tidak boleh ditampakkan sama sekali dan tidak bisa diberi taukid lafzhi.
  6. Dhomir yang terletak dalam Af’alut Tafdhil (fi’il-fi’il yang berfungsi untuk melebihkan sesuatu dari yang lain). Af’alut Tafdhil meskipun berbentuk Isim dan berlaku seperti Isim, namun mengandung Dhomir هُوَ (Dia) seperti halnya fi’il-fi’il dengan wazan أَفْعَلَ. Contohnya dalam Firman Allah Ta’ala: وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِئْيًا (Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata). Maka Dhomir هُوَ (Dia) yang ada dalam kata أَحْسَنُ tersebut tidak boleh ditampakkan sama sekali dan tidak bisa diberi taukid lafzhi.
  7. Dhomir yang terletak dalam Asmaaul Af’al yaitu Isim-isim yang punya fungsi seperti fi’il sehingga punya subjek atau objek penderita, dengan syarat fi’il-fi’il ini bukan fi’il madhi yang menunjukkan kepada pekerjaan di masa lampau. Contoh: نَزَالِ (Turunlah) yang merupakan Isim fi’il yang bermakna perintah yang tentu saja mengandung Dhomir أَنْتَ yang tidak bisa ditampakkan. Begitupula kata أَوَّه (Aduh) yang mengandung makna “Aku sakit” yang tentu saja menunjukkan waktu sekarang sehingga Dhomir أَناَ dalam kata ini tidak dapat ditampakkan seperti halnya fi’il mudhari’ yang diawali oleh huruf Alif.
  8. Dhomir yang terletak dalam Isim Mashdar (Isim dasar) yang menggantikan fi’il-nya. Seperti dalam firman Allah: فَضَرْبَ الرِّقَابِ (Maka pancunglah leher-leher mereka) di mana Isim Mashdar ضَرْبَ mewakili fi’il amr yang mengandung Dhomir أَنْتَ yang tidak bisa ditampakkan.
  9. Dhomir yang terletak dalam fi’il نِعْمَ (sebaik-baik) dan بِئْسَ (sejelek-jelek) yang dijelaskan dengan Isim Nakiroh. Seperti: نِعْمَ قَوْماً مَعْشَرُهُ (sebaik-baik kaum adalah keluarganya) dan juga firman Allah: بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلاً (sejelek-jelek pengganti bagi orang-orang yang zhalim). Tentang kedua fi’il ini, seluruh ahli bahasa menyatakan bahwa Dhomir هُوَ yang dikandung oleh keduanya tidak boleh ditampakkan.
Yang termasuk dalam jenis Al-Mustatir yang boleh adalah:
  1. Dhomir yang terletak dalam fi’il untuk orang ketiga baik untuk Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Contoh: زَيْدٌ قَامَ (Zaid telah berdiri) dan هِنْدٌ قَامَتْ (Hindun telah berdiri). Sebab ia dikatakan tidak wajib tersembunyi adalah, bahwa fi’il قَامَ dan قَامَتْ bisa digunakan dengan menyebutkan Fa’il atau pelakunya secara langsung tanpa disembunyikan. Perhatikan contoh berikut: زَيْدٌ قَامَ أَبُوْهُ (Zaid telah berdiri bapaknya). Di sini kata أَبُوْهُ menjadi Fa’il dan menggantikan Dhamir هُوَ yang awalnya adalah Fa’il dari fi’il قَامَ yang merupakan bukti bahwa Dhamir di sini bisa digantikan oleh Isim Zhahir. Contoh berikutnya: هِنْدٌ قَامَتْ أُمُّهاَ (Hindun telah berdiri ibunya), di sini kata أُمُّهاَ menjadi Fa’il dan menggantikan Dhamir هِيَ yang awalnya adalah Fa’il dari fi’il قَامَتْ yang juga membuktikan bahwa Dhamir yang dikandung oleh fi’il tersebut bisa digantikan oleh Isim Zhahir.
  2. Dhomir yang terletak dalam Isim-isim yang bertindak sebagai Shifah (kata penjelas). Contoh: زَيْدٌ قَائِمٌ (Zaid berdiri) atau زَيْدٌ مَضْرُوْبٌ (Zaid terpukul) atau زَيْدٌ حَسَنٌ (Zaid baik) di mana kata-kata قَائِمٌ, مَضْرُوْبٌ dan حَسَنٌ bertindak sebagai Shifah atau kata yang menjelaskan keadaan si Zaid. Dan karena kata-kata Shifah itu bisa bertindak seperti halnya fi’il-fi’il yang digantikan, maka kata-kata tersebut juga mengandung Dhomir yang dikandung oleh fi’il-fi’il asalnya. Sebagai bukti bahwa Dhomir dalam kata-kata Shifah ini bisa digantikan oleh Isim Zhahir bisa kita perhatikan contoh berikut: زَيْدٌ قَائِمٌ أَبُوْهُ (Zaid, bapaknya berdiri) atau زَيْدٌ مَضْرُوْبٌ أَخُوْهُ (Zaid, saudaranya terpukul) atau زَيْدٌ حَسَنٌ قَلْبُهُ (Zaid, hatinya baik). Kata-kata أَبُوْهُ , أَخُوْهُ dan قَلْبُهُ bertindak sebagai Fa’il dari kata-kata Shifah di atas yang membuktikan bahwa ketiganya menggantikan Dhomir yang ada dalam kata-kata Shifah tersebut.
  3. Dhomir yang terletak dalam Isim fi’il madhi. Contoh: هَيْهَاتَ الأَمَلُ إِذْ لَمْ يُسْعِدْهُ العَمَلُ (Telah jauh angan-angan jika tidak dibantu oleh kerja). Karena kata هَيْهَاتَ (Telah jauh) adalah Isim fi’il madhi, maka tentu saja ia mengandung Dhomir هُوَ yang boleh tampak atau digantikan oleh Isim Zhahir yang dalam kalimat ini kebetulan menggunakan Isim Zhahir yaitu kata الأَمَلُ sebagai penggantinya dalam posisi Fa’il.

D'ZONE T-SHIRT | Sablon DTG Printer Jogja

TEKNIK SEO MUDAH DAN GRATIS | Optimasi Seo, Seo Tools, Optimasi Blog, Seo Terbaik, Seo Gratis

BELAJAR AKUNTANSI DASAR | Akuntansi Perusahaan Dagang, Manajemen Akuntansi, Laporan Keuangan